Perang Tiga Poros Muktamar NU 2026, Dari Istana ke Pesantren

[original_title]

Jackiecilley.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung pada 2026 diperkirakan akan menjadi arena kompetisi tiga poros kekuatan besar yang berupaya meraih pengaruh. Penilaian ini disampaikan oleh Bustomi Menggugat, Direktur Eksekutif Institute for Strategy and Political Studies (INTRAPOLS). Ia menekankan bahwa peristiwa ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan sebuah pertarungan yang menentukan arah organisasi di tengah perubahan lanskap politik pasca-2024.

Bustomi menjelaskan bahwa dinamika ini merupakan salah satu yang paling kompleks dalam sejarah suksesi kepemimpinan NU. Tiga kekuatan utama yang bersaing, menurutnya, meliputi poros petahana yang dipimpin oleh KH Yahya Cholil Staquf, poros birokrasi yang diwakili oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan poros yang menguatkan kembali basis kultural di level pesantren.

Poros pertama, KH Yahya Cholil Staquf, mengandalkan keberhasilan organisasi dalam digitalisasi dan keterlibatan di forum internasional, seperti R20. Namun, kritik terkait kecenderungan sentralisasi organisasi menurut Bustomi bisa menjadi tantangan serius baginya.

Sementara itu, poros kedua, yang didominasi oleh Nasaruddin Umar, dinilai memiliki kedekatan dengan pemerintahan dan diharapkan dapat menjaga hubungan harmonis antara NU dan negara.

Konsolidasi kekuatan ini mulai terlihat di tingkat wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU), di mana masing-masing poros sedang aktif membangun basis dukungan. Muktamar ini diyakini akan mengubah arah NU dan menjadi momen penting bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Baca Juga  Helmy Attamimi Award 2026 Dorong Persaingan Sehat Industri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *