Jackiecilley.com – Laporan terbaru UNESCO mengungkapkan bahwa jumlah mahasiswa terdaftar di lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade terakhir. Sejak tahun 2000, jumlah pendaftaran pendidikan tinggi global melonjak dari sekitar 100 juta menjadi 269 juta pada tahun 2024. Namun, laporan yang dipublikasikan pada 12 Mei ini juga menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam hal geografis dan gender yang masih perlu diperhatikan.
Menurut data yang dihimpun dari 146 negara, ketimpangan regional sangat mencolok. Di Eropa Barat dan Amerika Utara, sekitar 80 persen anak muda terdaftar dalam pendidikan tinggi, sementara di Afrika sub-Sahara, angka ini hanya mencapai 9 persen. Selain itu, laporan tersebut mencatat bahwa hanya 3 persen mahasiswa di seluruh dunia yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.
Ketidakadilan tidak hanya terjadi dalam aspek geografis; perempuan juga kurang terwakili di tingkat doktoral, dengan hanya sekitar 25 persen memegang posisi kepemimpinan dalam dunia akademis. Hambatan lain bagi akses pendidikan tinggi adalah banyaknya pengungsi yang tidak memiliki dokumen kualifikasi yang lengkap dan terverifikasi, yang sangat menghambat mereka di negara-negara Global South.
UNESCO telah merespon isu ini dengan meluncurkan Paspor Kualifikasi, sebuah alat yang dirancang untuk mengakui kualifikasi akademik, profesional, dan vokasional yang dimiliki oleh para pengungsi. Inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh individu yang terpaksa mengungsi, sehingga mereka dapat mengakses pendidikan tinggi dengan lebih baik.