Jackiecilley.com – Virus langka Bourbon kini terdeteksi di New York, memicu peringatan serta dorongan untuk memperluas pengawasan dan pengujian terkait infeksi yang ditularkan melalui kutu ini. Dengan kasus pertama yang dikonfirmasi baru-baru ini, para peneliti menekankan bahwa potensi penyebaran virus ini mungkin lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Virus Bourbon, yang ditemukan pertama kali di Bourbon County, Kansas, pada tahun 2014, ditularkan melalui kutu bintang tunggal. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat yang tersedia untuk mencegah atau mengobati infeksi ini. Gejala yang muncul antara lain demam, kelelahan, ruam, sakit kepala, nyeri tubuh, mual, dan muntah. Sejak virus ini diidentifikasi, hanya enam kasus pada manusia yang dilaporkan, terutama di wilayah tengah Amerika Serikat.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Stony Brook Medicine, para ilmuwan menganalisis sampel darah dari 107 pasien yang mengalami gejala setelah digigit kutu di Suffolk County antara tahun 2019 dan 2024. Hasilnya, dua pasien ditemukan memiliki antibodi terhadap virus Bourbon. Salah satu pasien adalah pria berusia 67 tahun dari Long Island yang mengalami gejala parah dan dirawat di rumah sakit setelah gigitan kutu pada tahun 2021. Setelah perawatan awal untuk penyakit Lyme, ia akhirnya didiagnosis positif terinfeksi virus Bourbon setelah analisis ulang.
Kehadiran banyak kutu bintang tunggal di New York menambah kekhawatiran. Dr. Luis Marcos, profesor kedokteran di Stony Brook, menyatakan bahwa, “Gejala infeksi virus Bourbon mirip dengan infeksi lainnya yang ditularkan melalui kutu, sehingga diagnosis bisa menjadi sulit.” Penelitian dan pengawasan yang lebih mendalam sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari virus ini di masa mendatang.