Jackiecilley.com – Suasana mudik menjelang Idul Fitri di Maluku semakin meriah, terutama di pelabuhan-pelabuhan yang ramai dengan aktivitas. Ribuan warga, dengan membawa tas besar serta keranjang berisi oleh-oleh, terlihat menunggu keberangkatan kapal menuju pulau asal mereka. Tradisi mudik di provinsi kepulauan ini memang berbeda; perjalanan pulang kampung dilakukan melalui laut, mengingat wilayah Maluku berjajar pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan luas.
Transportasi laut menjadi pilihan utama mobilitas masyarakat, karena sebagian besar daerah di Maluku terdiri atas kepulauan. Kapal penumpang, kapal perintis, hingga kapal cepat menjadi sarana penting yang menghubungkan kota dengan desa-desa terpencil. Di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, aktivitas mudik sudah terasa sejak pagi, dengan calon penumpang dari berbagai kalangan—pekerja, mahasiswa, hingga pedagang—datang lebih awal untuk memastikan tempat di kapal tujuan.
Perjalanan mudik di Maluku tidak selalu mudah. Sebagian warga harus menempuh beberapa tahap perjalanan, dimulai dengan menyeberang menggunakan kapal besar dari Ambon, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal kayu atau speedboat ke desa-desa kecil. Momen ini menjadi pengalaman seru bagi banyak penumpang, yang sering berbincang dan berbagi makanan di atas geladak kapal sembari menikmati pemandangan laut.
Namun, perjalanan laut tidak tanpa tantangan. Dalam beberapa tahun terakhir, cuaca di perairan Maluku sering berubah mendadak, dengan angin kencang dan gelombang tinggi yang dapat mengakibatkan penundaan keberangkatan. Bagi para pemudik, situasi ini sudah menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi, dan mereka tak jarang menunggu berjam-jam di pelabuhan demi keselamatan perjalanan.