Jackiecilley.com – Pemerintah Provinsi Papua memperkuat ketahanan pangan daerah sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, terutama untuk komoditas cabai, bawang, dan tomat. Pelaksana Harian Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat, Yoniman Ronting, mengungkapkan bahwa mayoritas kebutuhan pangan masyarakat di Papua masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Yoniman menjelaskan bahwa situasi ini menjadikan harga komoditas pangan rentan terhadap gangguan distribusi dan peningkatan biaya logistik. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah melaksanakan berbagai langkah pengendalian harga, termasuk melakukan intervensi pasar saat terjadi gejolak harga di tingkat konsumen. Namun, ia menekankan bahwa upaya jangka panjang yang lebih efektif adalah memperkuat produksi pangan lokal, sehingga ketergantungan terhadap pasokan eksternal dapat diminimalisir.
Lebih lanjut, Yoniman menyebutkan pentingnya memperkuat sistem logistik pangan dengan mendorong efisiensi distribusi antar wilayah dan memperbaiki rantai pasok, guna menekan biaya transportasi. Hal ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan serta menjaga daya beli masyarakat melalui ketersediaan pasokan yang lebih merata dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua, Warsono, menyatakan bahwa laju inflasi di Papua masih terjaga dan berada dalam sasaran inflasi nasional, yaitu 2,5 persen plus-minus satu persen. Ia mencatat bahwa inflasi di Tanah Papua pada Mei 2026 tetap terkendali berkat sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh Papua.