Jackiecilley.com – Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia menargetkan pengembangan kawasan hilirisasi kelapa seluas 151.554 hektare pada tahun 2026. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan pasokan bahan baku industri, memperkuat nilai tambah komoditas kelapa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini diungkapkan oleh Agus Rosyid, Pengawas Mutu Hasil Pertanian dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan, dalam sebuah webinar di Jakarta.
Agus mencatat bahwa target pengembangan ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat hilirisasi kelapa, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Untuk mencapai target tersebut, Kementan mengalokasikan anggaran sekitar Rp427 miliar yang tidak termasuk biaya benih. Dalam tahun sebelumnya, realisasi program baru mencapai 1.975 hektare dengan dana sekitar Rp10,92 miliar.
Saat ini, sebanyak 28 provinsi terlibat dalam program pengembangan ini. Pemerintah berencana menyalurkan paket bantuan yang mencakup benih kelapa, pupuk organik, dan dukungan biaya untuk persiapan lahan serta penanaman. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan kelapa di dalam negeri.
Indonesia saat ini merupakan produsen kelapa terbesar kedua di dunia dengan produksi sekitar 2,132 juta ton dan luas areal perkebunan mencapai 3,2 juta hektare. Namun, produktivitas kelapa nasional masih rendah, dengan rerata 1,1 ton per hektare per tahun. Agus menekankan pentingnya peningkatan produktivitas sebagai tantangan utama dalam pengembangan industri kelapa, di samping masalah proporsi tanaman tua dan optimalisasi hilirisasi. Pemerintah mengajak berbagai pihak, termasuk swasta dan PT Perkebunan Nusantara, untuk mendukung tujuan ini.