Jackiecilley.com – Organisasi Angkutan Darat (Organda) segera melakukan penyesuaian terhadap penerapan biodiesel B50 pada armada angkutan umum. Dalam hal ini, ketua umum DPP Organda, Adrianto Djokosoetono, mengungkapkan bahwa penyesuaian ini bukan sekadar soal kesiapan teknis, tetapi merupakan bagian dari adaptasi operasional yang perlu dilakukan oleh para pelaku usaha.
Adrianto menjelaskan, armada angkutan saat ini belum dirancang untuk menggunakan B50, sehingga penyesuaian bertahap akan dilakukan di lapangan. Ia menekankan pentingnya memastikan ketersediaan solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). “Ketersediaan solar menjadi fokus utama kami agar layanan transportasi tidak terganggu,” ujarnya saat dikonfirmasi di Jakarta.
Dikatakannya, selama ini masalah distribusi solar masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk Sumatera dan Kalimantan. Organda berharap pemerintah dapat menjamin pasokan solar yang merata, guna mendukung kelancaran operasional transportasi publik.
Sekretaris Jenderal DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, menambahkan, penerapan B50 membutuhkan penyesuaian teknis karena kandungan fatty acid methyl ester (FAME) di Indonesia mencapai 50 persen, jauh lebih tinggi dibanding negara lain. Hal ini dapat menimbulkan tantangan bagi kendaraan dengan teknologi exhaust gas recirculation (EGR) dan AdBlue, yang dapat mengakibatkan penumpukan sludge.
Meskipun ada tantangan, Organda tetap mendukung implementasi B50 sebagai bagian dari kebijakan energi nasional, selama didukung dengan jaminan pasokan solar yang berkelanjutan. Keberhasilan transisi ini akan sangat bergantung pada keberadaan bahan bakar yang stabil, agar pelayanan transportasi kepada masyarakat tetap optimal.