Jackiecilley.com – Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mendorong agar pelabuhan internasional di Indonesia mengalami transformasi dari sistem berbasis status administratif menjadi berbasis fungsi dan kinerja. Hal ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas perdagangan dan meningkatkan efisiensi logistik nasional.
Robby Kurniawan, anggota Dewan Penasehat MTI, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam jaringan perdagangan global. Namun, banyak pelabuhan berstatus internasional yang tidak mencerminkan efektivitas pengelolaan. Dikatakan, dari 144 pelabuhan internasional, hanya 73 yang aktif melakukan ekspor dan 63 untuk impor pada tahun 2025. Kondisi ini menyoroti adanya kesenjangan antara status administratif dan kinerja nyata pelabuhan.
Melalui fokus grup diskusi, MTI merekomendasikan penerapan model Integrated International Port Effectiveness Model (IIPEM). Model ini bertujuan agar pelabuhan tidak berdiri sendiri, namun menjadi bagian dari jaringan nasional yang terintegrasi. Robby menjelaskan bahwa melalui IIPEM, pelabuhan perlu dievaluasi berdasarkan fungsi, efektivitas, dan kontribusi terhadap perdagangan nasional.
IIPEM dibangun melalui enam kapabilitas strategis, termasuk pengelolaan pelabuhan yang efektif, konektivitas maritim, dan efisiensi operasional. Pelabuhan juga perlu dikelompokkan dalam hierarki berdasarkan fungsi dan konektivitas.
Robby menekankan bahwa Indonesia tidak hanya memerlukan lebih banyak pelabuhan internasional, tetapi suatu sistem pelabuhan yang fokus pada fungsi, efisiensi, dan kinerja. Mengukur efektivitas pelabuhan harus melampaui produktivitas, dan lebih kepada bagaimana sistem tersebut menurunkan biaya logistik serta meningkatkan daya saing ekspor. Transformasi menuju pengelolaan pelabuhan yang lebih fungsional ini menjadi vital bagi optimalisasi perdagangan Indonesia di kancah global.