Jackiecilley.com – Memasuki tahun 2026, optimisme masyarakat Indonesia mencatat angka sekitar 90 persen, tertinggi di dunia menurut survei Ipsos. Hal ini menjadi modal sosial signifikan di tengah ketidakpastian global. Optimisme dianggap sebagai energi yang mampu mendorong kreativitas dan ketahanan sosial, namun perlu diingat bahwa ia juga dapat rapuh jika tidak ditangani dengan baik.
Sinyal-sinyal eksternal menunjukkan bahwa ada tantangan yang harus dihadapi. Penurunan rating investasi oleh Moody’s dan pembekuan indeks pasar modal oleh MSCI jadi tanda peringatan, bukan vonis. Kondisi ini menekankan pentingnya kualitas data, konsistensi kebijakan, serta kredibilitas institusi. Respons pemerintah terhadap tantangan ini akan menjadi penentu arah optimisme publik ke depan.
Pemerintah pusat yang dipimpin oleh Presiden bertanggung jawab dalam menjaga arah dan narasi nasional. Komunikasi terbuka dan keselarasan antar-kebijakan sangat penting untuk memperkuat kepercayaan masyarakat. Selain itu, sektor-sektor terkait, terutama yang mengelola fiskal dan perencanaan, mesti menegakkan transparansi dan keterbukaan evaluasi.
Peran dunia usaha juga tak kalah krusial. Di tengah optimisme yang ada, mereka perlu menjaga praktik bisnis yang transparan dan patuh terhadap regulasi. Ini membantu membangun kepercayaan yang berkelanjutan.
Media, ilmuwan, dan masyarakat sipil turut memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas ruang publik. Kritik dan masukan berbasis data sangat diperlukan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi optimisme.
Sejarah Indonesia mengingatkan, kepercayaan publik adalah faktor utama dalam menciptakan stabilitas. Oleh karena itu, merawat optimisme bangsa berarti merawat kepercayaan yang menjadi fondasi masa depan Indonesia.