Mengapa Houthi Kurang Berkomitmen dalam Konflik Iran dibanding Hizbullah

[original_title]

Jackiecilley.com – Houthi, gerakan yang beroperasi di Yaman, menampilkan sikap yang berbeda dibandingkan Hizbullah dalam keterlibatannya di konflik Timur Tengah, khususnya terkait dukungannya kepada Iran. Meskipun ada peringatan untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, Houthi tampaknya tidak menunjukkan semangat untuk terlibat secara aktif dalam perang ini.

Menurut Profesor Institut Thayer Marshall, Houthi lebih memilih untuk fokus pada konsolidasi kekuasaan di wilayah yang mereka kuasai di Yaman. Mereka dipandang tidak bersemangat untuk mematuhi perintah Iran seperti yang dilakukan Hizbullah, yang dikenal lebih proaktif dalam konflik tersebut. “Mereka ingin menguatkan kendali mereka di Yaman dan tidak mau terlibat dalam konflik lain,” ujarnya.

Sikap Houthi ini juga terlihat pada tindakan mereka di Selat Bab al-Mandeb. Profesor tersebut menyatakan bahwa meskipun Houthi memberikan peringatan, tindakan tersebut tidak akan menjadi tanda eskalasi yang signifikan. Selat Bab al-Mandeb sudah merupakan wilayah berisiko, dan perusahaan asuransi sudah mempertimbangkan fakta ini dalam penanganan kargo bernilai tinggi yang melewati area tersebut.

Di sisi lain, Abdul-Malik al-Houthi, pemimpin gerakan Houthi, mengklaim bahwa Amerika Serikat kini berada dalam posisi sulit setelah mengalami kerugian dalam operasi militer yang dipimpinnya bersama Israel. Dalam sebuah siaran televisi, ia menyatakan bahwa musuh kini terpaksa mencari gencatan senjata karena banyaknya korban dan kerugian peralatan militer yang mereka alami.

Dalam konteks ini, Houthi tampaknya memilih kebijakan defensif, mengedepankan konsolidasi kekuasaan di Yaman, dan tidak terjerumus dalam konflik yang lebih luas.

Baca Juga  Gavin Enricko Berperan Sebagai Playboy di Microdrama Terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *