Jackiecilley.com – Fenomena media sosial (medsos) semakin berkembang menjadi ajang pamer amal di kalangan pengguna. Selain sebagai tempat curhat dan berbagi pengalaman, banyak individu memanfaatkan platform ini untuk menunjukkan kepedulian sosial mereka. Tindakan ini, meski mungkin berawal dari niat yang baik, dapat berpotensi terjebak dalam riya’ dan sum’ah—dua praktik yang dalam konteks agama, dianggap sebagai bentuk syirik kecil.
Riya’ merujuk pada tindakan memperlihatkan amal perbuatan, sementara sum’ah berarti memperdengarkan amal kepada orang lain. Meskipun tujuan awal beramal seharusnya adalah untuk Allah, seringkali niat ini bercampur untuk mendapat pengakuan dan pujian. Hal ini menjadi perhatian serius, terutama dalam komunitas Muslim yang sering kali meremehkan potensi bahaya dari perilaku tersebut.
Fenomena ini menarik perhatian banyak kalangan, termasuk ulama dan pakar psikologi sosial. Dalam konteks ini, diingatkan akan ayat Al-Quran agar beramal dengan niat yang tulus dan murni. Allah berfirman dalam QS: Az-Zumar: 2-3, yang menegaskan pentingnya pengabdian yang bersih dan tulus kepada-Nya.
Bertepatan dengan peningkatan penggunaan media sosial, penting bagi masyarakat untuk menyadari dampak perilaku di dunia maya. Beramal seharusnya menjadi kegiatan yang didasari oleh keikhlasan, bukan untuk menunjukkan eksistensi di hadapan orang lain. Dengan adanya kesadaran ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan platform medsos, dan tidak terjebak dalam perilaku yang justru akan merugikan diri sendiri dan nilai spiritualitas mereka.