Jackiecilley.com – Kualitas udara di DKI Jakarta kembali menunjukkan angka yang memprihatinkan, menempati peringkat ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Data dari IQAir menunjukkan bahwa pada Kamis (20/8) pukul 06.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta mencatat angka 162, masuk dalam kategori tidak sehat. Dalam situasi ini, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan demi menjaga kesehatan.
Dalam pemantauan global IQAir, Kinshasa, Kongo, menempati posisi teratas dengan AQI 208, diikuti oleh Kuching, Malaysia, yang memegang angka 199. Kondisi ini mencerminkan tantangan serius yang dihadapi Jakarta terkait polusi udara.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah merancang tiga strategi utama untuk memperbaiki kualitas udara di ibu kota. Pertama, Pemprov DKI berupaya memperluas layanan bus Transjabodetabek guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Rute-rute baru seperti Blok M–Alam Sutera dan Blok M–Bandara Soekarno-Hatta akan segera diluncurkan.
Kedua, Pemprov berkomitmen untuk mempercepat konversi armada transportasi ke kendaraan ramah lingkungan. Ambisi ini mencakup pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada tahun 2030, mengingat sektor transportasi menyumbang 50 persen emisi gas buang di Jakarta.
Ketiga, pengelolaan lingkungan juga menjadi fokus, di mana Pemprov mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendorong masyarakat untuk beralih ke moda transportasi publik dan telah menerbitkan aturan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat tertentu. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi warga dalam upaya memperbaiki kualitas udara.