Jackiecilley.com – Disrupsi kecerdasan buatan (AI) dinilai kian memperkuat peran komunikator dalam menjaga kepercayaan publik dan kredibilitas informasi. Hal tersebut diungkapkan oleh Elvera N Makki, Presiden IABC Indonesia, dalam acara The 5th IABC Indonesia Conference & Awards yang berlangsung di Jakarta pada 18 September 2026.
Elvera menjelaskan bahwa dalam era di mana informasi begitu melimpah, tantangan terbesar bagi komunikator ialah membantu masyarakat menentukan informasi yang benar. Dia menyebut kondisi tersebut sebagai “disruption of trust”, di mana komunikator memiliki mandat baru untuk menavigasi kompleksitas informasi. “Keberhasilan kini tidak hanya diukur dari seberapa luas dan cepat pesan disebarluaskan, tetapi juga dari dampak yang dihasilkan,” ujar Elvera.
Mengacu pada Reuters Institute Digital News Report 2026, tingkat kepercayaan terhadap berita secara global hanya tercatat 37 persen, dengan Indonesia berada di angka 32 persen, menurun empat poin dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan pentingnya peran komunikator dalam memverifikasi kebenaran informasi serta membangun kepercayaan publik.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, juga menjelaskan tentang potensi Indonesia dalam pengembangan AI. Menurutnya, penguatan infrastruktur, kebijakan, dan talenta sangat penting untuk menempatkan Indonesia dalam posisi strategis di kancah global.
Anggota DPD RI, Ni Luh Djelantik, menambahkan bahwa kemajuan teknologi harus dinilai atas manfaat yang dirasakan masyarakat. Keduanya sepakat bahwa meskipun komunikasi harus efektif dan cepat, dampak terhadap pemahaman dan perubahan perilaku sekaligus kepercayaan publik menjadi kunci utama kesuksesan komunikasi saat ini.