Jackiecilley.com – Agenda dedolarisasi di kalangan negara-negara BRICS mengalami kebuntuan, khususnya karena beberapa anggota, termasuk India, menunjukkan ketidaksetujuan terhadap penggantian penuh mata uang dolar AS. Dalam pertemuan yang terjadi baru-baru ini, anggota BRICS sepakat untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan, namun tetap membuka kemungkinan bagi tetap digunakannya dolar AS.
Duta Besar Rusia untuk India, Denis Alipov, menegaskan bahwa BRICS tidak mengusung agenda anti-Barat dan tidak menentang penggunaan dolar AS. “Kami, negara-negara BRICS, mendukung adanya alternatif yang ditawarkan melalui penggunaan mata uang nasional,” ujarnya saat konferensi di NDTV Defense Summit. Pernyataan ini menyoroti tujuan BRICS sebagai alternatif bagi platform global lainnya seperti G20, bukan sebagai blok yang berseberangan dengan kepentingan Barat.
Alipov juga menjelaskan bahwa tidak ada negara anggota BRICS yang mengusulkan sikap menentang Barat dalam forum tersebut. Poin ini menunjukkan bahwa meskipun ada keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar, pengakuan terhadap pentingnya mata uang tersebut tetap ada. Dengan penggunaan mata uang lokal yang diperkuat, BRICS berharap dapat meningkatkan kemandirian ekonomi antaranggota tanpa harus sepenuhnya menanggalkan dolar AS.
Sebagaimana diketahui, pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan global menjadi isu yang semakin relevan belakangan ini. Namun, hasil dari diskusi di BRICS menunjukkan bahwa implementasi penuh dari dedolarisasi masih akan memerlukan waktu dan kesepakatan lebih lanjut antarnegara anggota. Di tengah dinamika ini, BRICS tetap berfokus pada penciptaan kerjasama yang lebih erat untuk meningkatkan stabilitas ekonomi di region mereka.