Jackiecilley.com – Industri kelapa sawit di Indonesia bukan hanya sekadar komoditas ekspor, melainkan juga sumber penghidupan bagi jutaan keluarga dan penopang ketahanan ekonomi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Fuad Bawazier, anggota Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies dan mantan Menteri Keuangan, dalam acara Prasasti Insights di Jakarta, Kamis (5/2).
Fuad menjelaskan bahwa sektor kelapa sawit Indonesia, yang menguasai sekitar 58,7% dari produksi minyak sawit global, menyediakan lebih dari 16,5 juta lapangan kerja. Ia menekankan pentingnya melihat industri ini secara holistik, dengan mempertimbangkan dampak yang jauh melampaui angka ekspor. “Sawit adalah salah satu pilar utama ketahanan ekonomi nasional,” ungkapnya.
Tantangan yang dihadapi industri ini meliputi risiko iklim dan tekanan standar keberlanjutan global. Fuad menilai, pengembangan industri ke depan sangat potensial melalui hilirisasi dan peningkatan nilai tambah, namun hal ini hanya dapat terwujud dengan tata kelola yang baik. Diskusi diharapkan fokus pada penguatan kapasitas industri untuk mengelola risiko, bukan mencari kesalahan.
Di sisi lain, Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti, menyoroti perlunya kebijakan preventif dari pemerintah untuk memperkuat ketahanan sektor sawit. “Kebijakan harus mampu membangun ketahanan industri dari hulu hingga hilir,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pembuat kebijakan dan pelaku industri untuk merumuskan solusi yang efektif.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Teguh Sambodo, menambahkan bahwa perhatian terhadap produktivitas kebun rakyat sangat penting agar hilirisasi dapat berjalan efektif. Upaya peremajaan kebun rakyat menjadi kunci untuk meningkatkan potensi industri ke depan. Prasasti Insights diharapkan dapat menjadi platform yang mendukung kolaborasi antarpihak terkait dalam merumuskan kebijakan berorientasi jangka panjang, demi keberlangsungan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.