Jackiecilley.com – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pada Rabu (8/4) menegaskan bahwa penghentian permusuhan di Lebanon tidak tercakup dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Pernyataan itu diungkapkan Vance setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pendapat serupa, menyebut bahwa situasi di Lebanon merupakan “bentrokan terpisah” dan bukan bagian dari perjanjian yang lebih luas.
Vance menilai ada kesalahpahaman mengenai isi kesepakatan tersebut, dimana pihak Iran beranggapan bahwa gencatan senjata juga mencakup Lebanon. “Kami tidak pernah membuat janji itu. Gencatan senjata hanya akan difokuskan pada Iran dan sekutu-sekutunya, termasuk Israel serta negara-negara Arab di Teluk,” jelasnya kepada wartawan sebelum perjalanan ke Hungaria.
Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel meluncurkan serangan terbesar terhadap Hizbullah di Lebanon sejak awal eskalasi konflik. Langkah ini memicu reaksi dari Iran, dimana kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran dapat membatalkan kesepakatan gencatan senjata jika Israel terus melakukan serangan. Selain itu, Fars News Agency melaporkan bahwa Iran juga telah menangguhkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan tersebut.
Ketegangan di kawasan ini mencerminkan ketidakpastian yang kian meningkat, baik dari sudut pandang politik regional maupun hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan ini menjadi perhatian internasional, mengingat potensi konsekuensinya bagi stabilitas di Timur Tengah dan hubungan antara negara-negara yang terlibat.