Jackiecilley.com – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengamati perubahan dalam strategi fiskal pemerintah terkait Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Menurut analisis yang disampaikan oleh Fixed Income Analyst Mirae Asset, Jessica Tasijawa, perubahan ini menandakan fokus pemerintah beralih dari ekspansi program ke optimalisasi serta efektivitas belanja.
Jessica menyebutkan bahwa tantangan pada 2027 tidak terletak pada peningkatan kapasitas belanja, melainkan terkait kemampuan untuk memastikan setiap rupiah dalam anggaran dapat memberikan dampak lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini sejalan dengan proyeksi bahwa anggaran sepuluh kementerian dan lembaga terbesar akan mengalami kontraksi sebesar 1,4 persen, setelah sebelumnya tumbuh 38,5 persen pada 2026.
Perkiraan belanja pegawai juga menunjukkan penurunan sebesar 34,8 persen. Di tengah situasi ini, pemerintah menargetkan defisit fiskal pada 2027 menyusut menjadi Rp671,2 triliun atau 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.426 triliun dengan pertumbuhan 8,6 persen, sedangkan belanja negara diproyeksikan sebesar Rp4.097,2 triliun.
Mirae Asset menekankan bahwa keberhasilan pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk mengarahkan belanja ke program yang memiliki multiplier ekonomi yang lebih tinggi. Selain itu, penerimaan perpajakan juga diperkirakan akan meningkat, khususnya pada pajak penghasilan yang diharapkan tumbuh 9,9 persen.
Di sisi lain, kebutuhan refinancing pemerintah diperkirakan masih signifikan, dengan jatuh tempo surat berharga negara sekitar Rp878 triliun. Jessica juga menjelaskan bahwa stabilitas rupiah dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Bank Indonesia, yang dapat berdampak pada yield surat berharga negara.