Dugong Terakhir Teluk Tang Khen Terdampak Perubahan Lingkungan

[original_title]

Jackiecilley.com – Miracle, seekor dugong yang kini tersisa sebagai satu-satunya penghuni di Teluk Tang Khen, Thailand, menjadi simbol krisis yang menimpa populasi dugong di kawasan tersebut. Theerasak “Pop” Saksritawee, seorang pengawas lokal, telah memantau keberadaan Miracle secara intensif selama 15 bulan terakhir setelah kematian Jingjok, pasangan dugongnya, tahun lalu. Di masa lalu, kawasan ini dikenal sebagai habitat bagi 13 dugong, namun kini jumlahnya menyusut drastis.

Kondisi ini mencerminkan tren yang lebih luas di kawasan laut Indo-Pasifik, di mana dugong telah berstatus sangat terancam punah. Menurut penilaian terbaru, angka kematian dugong di Thailand meningkat tajam dari 20 kasus per tahun pada 2019-2022 menjadi 42 kasus per tahun pada 2023-2024. Petch Manopawitr, seorang ekolog, memperkirakan bahwa populasi dugong telah menurun hingga setengahnya.

Salah satu penyebab utama penurunan ini adalah hilangnya padang lamun, sumber makanan utama dugong. Ahli dugong global Helene Marsh menekankan pentingnya lamun, di mana seekor dugong dewasa membutuhkan 40 hingga 60 kg setiap hari untuk bertahan hidup. Tanpa itu, dugong terpaksa bermigrasi atau berisiko mati terdampar.

Selain itu, ancaman terhadap keberadaan dugong juga diperburuk oleh polusi yang diakibatkan oleh pembangunan pariwisata, seperti tabrakan dengan kapal dan limbah konstruksi yang menghalangi pertumbuhan lamun. Meskipun ada upaya dari pemerintah untuk menanam kembali lamun, hasilnya masih dianggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Warga lokal, seperti Pop dan Manee Sanae, berinisiatif menjaga Miracle bersama-sama melalui komunitas daring. Bagi mereka, keberadaan Miracle mewakili lebih dari sekadar satwa; ia merupakan bagian dari identitas masyarakat yang harus dilestarikan.

Baca Juga  Nagelsmann Siap Bawa Jerman Rebut Gelar Piala Dunia Lagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *