Jackiecilley.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengungkapkan bahwa Kuba mungkin menjadi target kebijakan luar negeri AS berikutnya. Pernyataan ini disampaikan di konferensi Future Investment Initiative yang berlangsung di Miami, Florida, pada tanggal 27 Maret 2026. Trump mengarahkan fokusnya setelah serangkaian tindakan militer yang dilakukan oleh Washington terhadap Venezuela dan Iran, termasuk penangkapan paksa Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada awal Januari.
Dalam pernyataannya, Trump berkata, “Omong-omong, Kuba akan menjadi yang berikutnya. Anggap saja saya tidak mengatakan itu.” Ungkapan ini memicu spekulasi mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang akan diambil oleh AS di kawasan tersebut, terutama setelah serangan gabungan terhadap Iran yang terjadi pada akhir Februari lalu.
Kondisi di Kuba sendiri saat ini sangat memprihatinkan. Negara tersebut tengah mengalami krisis ekonomi dan energi yang akut, yang dipicu oleh sanksi sepihak AS yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), krisis ini semakin dalam dan telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang ekstrem, berpotensi menjebak negara itu dalam krisis kemanusiaan.
Sebelumnya, Trump juga pernah mengancam bahwa pemerintahan Kuba akan “segera runtuh,” meskipun menyatakan bahwa perhatian utama pemerintahannya saat ini masih terfokus pada mengatasi konflik di Iran. Pernyataan terbaru ini menunjukkan bahwa Kuba kini menjadi bagian penting dalam strategi kebijakan luar negeri yang lebih luas di bawah kepemimpinan Trump.