Jackiecilley.com – Seorang siswa SMA di Sulawesi Tengah menghadapi kenyataan pahit setelah dinyatakan lulus melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), namun harus mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kuliah. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ekonomi orangtuanya yang tidak mampu menanggung biaya pendidikan, termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT), transportasi, tempat tinggal, serta kebutuhan sehari-hari. Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak siswa di Indonesia, di mana prestasi akademis sering kali tidak sejalan dengan kemampuan finansial untuk melanjutkan studi.
Guna mengatasi masalah tersebut, pemerintah telah meluncurkan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Namun, program ini masih menemui kendala, karena jumlah penerima KIP Kuliah tidak sebanding dengan calon mahasiswa yang memerlukan bantuan. Banyak dari mereka yang memenuhi syarat tetap tidak menerima bantuan akibat keterbatasan anggaran dan kuota.
Data menunjukkan sekitar 60.000 calon mahasiswa tidak melakukan registrasi ulang setelah dinyatakan diterima melalui jalur Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB). Hal ini menyoroti tantangan serius yang dihadapi dalam menjamin akses yang berkelanjutan ke perguruan tinggi. Meskipun banyak mahasiswa lulus ujian seleksi, tantangan seperti biaya hidup sering menjadi penghalang yang lebih besar daripada UKT.
Akses pendidikan tinggi tidak hanya berarti diterima di perguruan tinggi, tetapi juga dapat menyelesaikan studi. Laporan terbaru menunjukkan bahwa angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi di Indonesia masih sekitar 32,89%. Ketidakmampuan siswa untuk berkuliah akibat masalah keuangan dapat mengakibatkan hilangnya potensi sumber daya manusia yang vital bagi pembangunan negara, di mana kekurangan investasi pada pendidikan dapat memperpanjang siklus kemiskinan.