Jackiecilley.com – Penerapan pola tiba-bongkar-berangkat (TBB) di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang ditujukan untuk mempercepat proses pelayanan angkutan logistik, perlu dievaluasi. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo.
Khoiri menjelaskan, meskipun TBB diharapkan dapat mengatasi antrean kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk, pengalaman para operator menunjukkan bahwa efektivitas metode ini sangat terbatas. Sistem ini mengharuskan kapal untuk membawa muatan dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk, lalu kembali tanpa muatan setelah membongkar. Namun, pola ini tidak meningkatkan kapasitas dermaga maupun jumlah perjalanan kapal.
Kendala lebih lanjut muncul setelah pelayaran kembali, di mana kapal sering kali masih harus menunggu antrean di laut sebelum bisa bersandar. Penghematan waktu sekitar 15 menit dari penghilangan pemuatan di Gilimanuk tidak cukup untuk mengimbangi keterbatasan slot dan kapasitas dermaga yang ada. Konsekuensinya, kendaraan dan penumpang yang telah menunggu di Gilimanuk harus menanti kapal berikutnya untuk diangkut.
Khoiri menekankan bahwa permasalahan antrean tidak diselesaikan, justru dapat berpindah ke area lain dan meningkatkan potensi risiko keselamatan di perairan Selat Bali. Ia juga merekomendasikan agar pola ini dipertimbangkan khusus pada periode tertentu seperti saat arus mudik dan balik.
Gapasdap bahkan mendorong agar peningkatan kapasitas Dermaga MB II segera diselesaikan. Rencana untuk periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 juga harus dipersiapkan dengan memenuhi syarat teknis dan keselamatan, termasuk perbaikan pada fasilitas dermaga untuk kapal berat.