Site icon herbberger.com

Dubes RI: Diplomasi Agama Harus Dukung Diplomasi Konvensional

[original_title]

Jackiecilley.com – Diplomasi berbasis agama dinilai penting untuk menyelesaikan konflik yang bermula dari identitas keagamaan. Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, mengemukakan pendapat ini saat menjadi pembicara utama di The 10th International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu kemarin.

Michael Trias menjelaskan bahwa diplomasi konvensional seringkali gagal dalam menghadapi konflik yang berakar pada keyakinan, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih berbasis agama. Ia menekankan bahwa konteks budaya dan agama mempengaruhi aktivitas diplomatik saat ini, selain faktor politik domestik dan internasional. Dalam hal ini, dialog berbasis keagamaan dapat menjadi jalan untuk menyatukan pihak-pihak yang berkonflik.

Pengalamannya sebagai jurnalis di kawasan konflik Timur Tengah, khususnya Irak pada tahun 2003, meningkatkan pemahamannya bahwa literasi agama serta penguasaan isu keamanan dan politik sangat penting bagi diplomat. Michael Trias juga mengisahkan diskusinya dengan Paus Fransiskus, di mana mereka membahas keberagaman Indonesia.

Dalam diskusinya, Paus Fransiskus mencatat nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai contoh toleransi. Menurut Trias, Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau dengan beragam agama dan etnis tetap dapat bersatu. Dia menegaskan bahwa keberagaman yang harmonis ini merupakan aset penting dalam diplomasi internasional berbasis agama.

Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan agama tertentu, melainkan untuk membangun dunia yang lebih toleran melalui peningkatan rasa saling percaya antarumat beragama. Diplomasi berbasis agama berpotensi menjadi salah satu solusi untuk meredakan ketegangan di dunia yang kian kompleks.

Exit mobile version