Jackiecilley.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Green, resmi diberlakukan sebagai respons terhadap gejolak harga minyak mentah dunia. Eddy Soeparno, anggota Komisi XII DPR RI, menjelaskan bahwa penyesuaian ini tidak terhindarkan mengingat kedua jenis BBM tersebut tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah.
Eddy menyatakan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh stabilnya harga minyak mentah dunia, yang berkisar antara US$80-100 per barel dalam beberapa bulan terakhir. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar, yang diperparah oleh faktor geopolitik, turut mempengaruhi situasi ini. Ia juga memprediksi bahwa harga dapat terus meningkat, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz bagi semua aktivitas pelayaran.
Perbandingan harga sebelum dan sesudah penyesuaian menunjukkan bahwa harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250, sementara Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Meskipun muncul beban tambahan bagi daya beli masyarakat, Eddy meyakini bahwa dampak terhadap harga jual produk akhir di pasar akan minimal.
Ia menyerukan agar pemerintah mengambil langkah mitigasi untuk mendukung sektor industri, termasuk insentif fiskal dan nonfiskal. Di sisi lain, ia berharap tidak terjadi migrasi besar-besaran dari konsumen Pertamax ke BBM bersubsidi Pertalite, dan meminta pengawasan ketat untuk memastikan distribusi tepat sasaran.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa penyesuaian harga telah dikoordinasikan dengan pemerintah. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis dan kepastian pasokan energi nasional, dilaksanakan melalui mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga pasar dan regulasi yang ada.