Jackiecilley.com – Penemuan terbaru mengenai lubang gravitasi di Antartika mengungkapkan fenomena alam yang semakin kuat, yang dapat memberikan wawasan baru tentang stabilitas es dan permukaan laut di kawasan tersebut. Lubang gravitasi ini, dikenal sebagai Antarctic Geoid Low (AGL), merupakan wilayah di mana tarikan gravitasi Bumi lebih lemah dibandingkan daerah lain, disebabkan oleh ketidakmerataan distribusi massa di dalam Bumi.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports pada Februari 2026 oleh Profesor Alessandro Forte dan koleganya dari University of Florida menunjukkan bahwa anomali ini telah ada selama sekitar 70 juta tahun. Penelitian ini mengungkapkan bahwa lubang gravitasi di Antartika telah menguat hingga 30% dalam 35 juta terakhir, bersamaan dengan pembentukan lapisan es yang besar di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa jika seseorang berdiri di pusat lubang gravitasi ini dengan berat 90 kg, mereka akan “kehilangan” sekitar 5-6 gram berat badan akibat tarikan gravitasi yang lebih rendah. Fenomena ini juga menyebabkan pergeseran distribusi air laut, di mana air cenderung menjauh dari Antartika ke area dengan massa geologi yang lebih tinggi, sehingga permukaan laut di kawasan ini lebih rendah dibandingkan rata-rata global.
Dua proses yang berkontribusi terhadap fenomena ini adalah subduksi lempeng, di mana sisa lempeng tektonik kuno tenggelam ke dalam mantel Bumi, dan upwelling mantel, dimana material panas naik ke permukaan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pemahaman mengenai dinamika Bumi, yang berdampak langsung terhadap iklim dan naiknya permukaan laut akibat perubahan lingkungan global.