Site icon herbberger.com

Bayi Hewan Bisa Jalan Cepat, Mengapa Manusia Tidak Bisa

[original_title]

Jackiecilley.com – Fenomena perbedaan kemampuan berjalan antara bayi hewan, seperti kuda dan jerapah, dengan bayi manusia menjadi fokus perhatian banyak orang. Bayi hewan tersebut dapat segera berdiri dan berlari dalam hitungan jam setelah lahir, sedangkan bayi manusia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk mulai menopang kepala. Fenomena ini bukanlah kecacatan evolusi, melainkan hasil dari kompromi biologis yang kompleks.

Menurut penelitian yang dikutip dari Scientific American, ukuran otak manusia yang besar menjadi faktor utama yang menghambat kematangan bayi di dalam rahim. Dengan struktur panggul yang lebih sempit akibat evolusi bipedal, manusia harus mengatur ukuran kepala janin. Jika proses kehamilan berlanjut lebih lama, ukuran kepala bayi akan menjadi terlalu besar untuk melalui jalan lahir, sehingga bayi manusia lahir saat otak mencapai sekitar 25% dari ukuran dewasa.

Selain faktor morfologis, ada pula aspek metabolisme ibu yang juga berperan penting. Penelitian dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menyatakan bahwa kebutuhan energi janin meningkat pesat selama kehamilan. Hingga bulan kesembilan, kemampuan tubuh ibu untuk menyuplai energi mencapai batas maksimalnya. Ketika kebutuhan janin melebihi kapasitas ibu, persalinan terpicu secara alami.

Ketidakberdayaan bayi manusia, meskipun tampak merugikan, sebenarnya adalah strategi evolusi untuk memperpanjang masa ketergantungan. Hal ini memungkinkan perkembangan otak yang lebih tinggi setelah lahir, memberi ruang bagi bayi untuk belajar keterampilan sosial dan bahasa yang kompleks. Dengan penyesuaian ini, manusia mampu membangun kapasitas kognitif yang luar biasa, menjadikannya sebagai spesies dengan kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi di dunia yang kompleks.

Exit mobile version