Jackiecilley.com – Retakan es Arktik menjadi perhatian serius dalam studi terbaru yang mengungkapkan dampak besar terhadap iklim global. Penelitian yang dirilis di jurnal Bulletin of the American Meteorological Society menunjukkan bahwa celah pada es laut ini berinteraksi dengan polusi dari ladang minyak di sekitarnya, memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi yang dipimpin Dr. Jose Fuentes dari Pennsylvania State University ini dilaksanakan melalui kampanye udara CHACHA pada tahun 2022. Dalam penelitian tersebut, sepanjang penerbangan di Laut Beaufort dan Chukchi, tim ilmuwan mencatat kadar nitrogen dioksida mencapai 60-70 bagian per miliar, mendekati batas kesehatan yang ditetapkan di Amerika Serikat.
Fenomena retakan es, yang dikenal sebagai leads, melepaskan panas dan uap air ke udara dingin Arktik. Hal ini menyebabkan pembentukan “asap laut”, atau kabut tebal dari perairan terbuka, yang lebih banyak menciptakan awan rendah. Awan ini bertindak sebagai penahan panas di satu sisi, namun juga memantulkan sinar matahari, mengakibatkan suhu udara meningkat hingga 10 derajat Celsius, yang pada gilirannya memicu lebih banyak retakan es.
Masalah semakin bertambah rumit dengan adanya polusi dari ladang minyak Prudhoe Bay. Emisi ini bereaksi dengan salju yang membawa garam, melepaskan gas bromin yang merusak ozon di atmosfer, sehingga lebih banyak sinar matahari mengenai permukaan es. Proses ini menciptakan umpan balik negatif yang berpotensi mempercepat penipisan es.
Dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, penelitian ini diharapkan dapat menyempurnakan model prediksi iklim yang saat ini sering kali mengabaikan faktor seperti retakan es dan polusi lokal. Mengingat pemanasan di Arktik menciptakan dampak signifikan pada rute pelayaran dan kehidupan masyarakat di wilayah kutub, penelitian ini memiliki relevansi yang sangat penting.